Ketua DPRD Berau: Program Pembangunan Harus Terus Menyentuh Masyarakat
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Ketua DPRD Berau, Dedi Okto Nooryanto, menilai program pembangunan di masa kepemimpinan kepala daerah periode terakhir cukup berjalan baik dan banyak menyentuh kepentingan masyarakat.
Menurutnya, sejumlah
program prioritas seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur desa sudah
mulai menunjukkan hasil nyata. “Di bidang pendidikan, anggaran sudah
dialokasikan sebesar 20 persen sesuai amanat undang-undang. Begitu juga di
bidang kesehatan dan pembangunan jalan hingga ke kampung-kampung,” ujar Dedi,
Selasa (2/9/2025) tadi.
Meski begitu, ia
menekankan pentingnya konsistensi dalam pelaksanaan program. “Walaupun anggaran
harus efisien, janji politik kepada masyarakat tetap harus dilaksanakan. Kami
di DPRD akan terus mengawasi agar program benar-benar menyentuh masyarakat,” tegasnya.
Dedi juga menyoroti
isu transisi ekonomi daerah yang selama ini diagungkan, dari ketergantungan
pada sektor pertambangan menuju penguatan pariwisata dan pertanian. Ia menilai
hilirisasi produk lokal, khususnya kelapa sawit, harus menjadi perhatian serius
pemerintah daerah.
“Hilirisasi itu
penting. Kita punya banyak kebun sawit, harusnya ada pabrik besar yang mengolah
minimal 20 persen produksi di daerah, sesuai aturan. Pemerintah daerah harus
cepat menangkap peluang ini,” jelasnya.
Terkait pariwisata,
Dedi menilai Berau memiliki potensi besar, khususnya keindahan bawah laut yang
sudah dikenal wisatawan mancanegara. Namun, ia mengakui bahwa daya tarik wisata
di Berau masih kalah dibanding destinasi seperti Bali dan Lombok.
“Kalau di Bali dan
Lombok, wisatawan bisa menikmati pantai sekaligus olahraga seperti selancar. Di
Berau, wisatawan datang khusus untuk menyelam. Jadi perlu inovasi agar
pariwisata kita lebih beragam dan menarik,” katanya.
Selain itu, ia juga
menyinggung perlunya evaluasi terhadap Peraturan Daerah (Perda) terkait
peredaran minuman keras (miras). Menurutnya, regulasi saat ini tidak terkendali
sehingga perlu penertiban agar tidak berdampak negatif bagi masyarakat maupun
sektor pariwisata.
“Sekarang miras bebas di mana-mana. Padahal perda hanya membolehkan di hotel berbintang lima, sedangkan kita tidak punya hotel seperti itu. Maka perda harus ditinjau ulang. Kalau memang ingin mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), atur dengan jelas. Kalau tidak, sekalian saja dikunci agar tidak menimbulkan masalah,” tegasnya.
Dedi berharap ke
depan, seluruh program pembangunan dapat berkesinambungan, sehingga transisi
ekonomi dan pengembangan sektor potensial benar-benar dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat Berau. (sep/FN)